SECRET FILE

Selasa, 08 Maret 2011

Mantan Nazi Sebut Militer Jerman "Lembek"

BERLIN (Berita SuaraMedia) – Orang terakhir yang selamat dalam plot Jerman untuk membunuh pemimpin Nazi Adolf Hitler pada Perang Dunia II mencerca militer Jerman di masa sekarang yang diklaim "lembek" dan harus diperkuat.
Ewald von Kleist, 88, adalah seorang anggota kelompok di belakang Klaus von Stauffenberg yang coba membunuh Hitler dengan bom pada 20Juli 1944 namun gagal.

Tak hanya mencela militer Jerman, ia juga memprediksikan bahwa suatu hari nanti akan ada Hitler baru yang muncul dan berkuasa, meski tidak di Jerman, dan ingin menguasai dunia.

Dalam wawancara dengan majalah Jerman, Der Spiegel, von Kleist mengatakan bahwa ada terlalu banyak "kelembutan" dalam pelatihan tentara modern. Menurutnya, hal itu menghilangkan naluri pembunuh para prajurit baru dalam pertempuran.

Negara-negara sekutu Jerman di NATO telah sejak lama mengeluhkan mengenai pasukan Jerman dan senjata yang mereka pergunakan saat bertempur bersama mereka di Afghanistan. Kleist mengatakan bahwa hal ini merupakan hasil dari sikap antimiliter dalam masyarakat setelah dua perang dunia.

Ia mengatakan, "Karena masa lalu kita, kita mengambil sikap yang sepenuhnya berbeda terhadap para prajurit. Dalam beberapa kasus, hal ini melenceng terlalu jauh ke arah lain."

"Saya yakin bahwa secara umum masyarakat tidak cukup memberikan dukungan terhadap Bundeswehr (tentara Jerman), yang juga Bundeswehr mereka dan turut bertanggung jawab atas perdamaian dan kemakmuran kita. Dalam hal ini, perilaku masyarakat tidak terlalu baik," kata Kleist.

Menurutnya, sudah waktunya para prajurit tidak terlalu berpikir dan lebih banyak patuh. "Kami menginginkan prajurit pemikir, sebuah hal yang pada prinsipnya baik. Tapi, jika terlalu bergantung pada prajurit pemikir, para prajurit bisa bermasalah. Saat ia mendekati musuh yang jahat dan terlalu banyak berpikir, dia akan berpikir, semakin dekat semakin bahaya. Hal ini tidak membantu."

Tapi, ia juga mengatakan, membicarakan mengenai kepahlawanan dan mengorbankan nyawa demi sebuah negara adalah hal yang "bodoh." Ia menambahkan, "Sebagai seorang prajurit, seseorang harus berani sehingga bisa mengatasi rasa takut."

Kleist mengatakan dirinya harus mengatasi rasa takutnya sendiri saat terseret dalam konspirasi untuk membunuh Hitler.

"Menurut saya, takut itu amat beralasan, rasa takut memperpanjang usia. Tapi, terkadang, saat amat diperlukan, Anda harus mengatasi rasa takut," kata Kleist. "Saya ingat saat kami diharuskan menunjukkan seragam baru kami di depan Hitler. Saat itu saya jadi pemimpin kelompok. Saya ingin membawa serta ranjau atau bom plastik dalam tas saya dan saya ingin meledakkannya saat berdiri di samping Hitler."

Namun presentasi itu dibatalkan.

Kemudian, Von Stauffenberg meletakkan bom dalam sebuah koper di markas Hitler. Ledakan bom itu menewaskan sejumlah ajudannya dan melukai Hitler, namun ia selamat.

Mengenai prediksinya tentang kemunculan Hitler baru, Kleist mengatakan, "Salah satu hal terakhir yang dikatakan Hitler adalah, ‘Tutup semua pintu di belakang kita dengan ledakan yang keras’."

"Dia tidak sempat melakukan itu dulu, tapi siapa yang tahu apakah seorang pemimpin Iran tidak merasakan hal yang sama suatu saat nanti. Atau coba lihat Pakistan, apa yang akan terjadi jika ada perubahan rezim dan kelompok radikal mendapatkan bom nuklir? Akan muncul Hitler baru suatu hari nanti," katanya.

Adolf Hitler melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang merancang rencana Stauffenberg, mayoritas dicekik perlahan-lahan dengan menggunakan senar piano yang digantung pada pengait. Kematian mereka direkam untuk disaksikan Hitler di bioskop pribadinya di kediamannya di Bavaria.

Kleist, yang bertempur sebagai prajurit di Rusia, dipenjara untuk sementara waktu di sebuah kamp konsentrasi karena keterlibatannya dalam konspirasi pembunuhan tersebut, namun ia bebas dan melarikan diri ke Italia. Plot pembunuhan tersebut menjadi inspirasi dalam film tahun 2008, Valkyrie, yang dibintangi Tom Cruise. (dn/nsc) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar